JAKARTA (SuaraManado.com) – Suasana di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta diwarnai kekacauan dan keluhan dari para penumpang maskapai Batik Air penerbangan ID 6280 rute Jakarta (CGK) menuju Manado (MDC), Selasa (11/8/2026).
Keterlambatan jadwal penerbangan (delay) yang dibarengi ketidakpastian informasi serta pemindahan gate yang berulang kali membuat para penumpang, pelaku bisnis, hingga wisatawan mancanegara merasa sangat dirugikan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ketidaknyamanan mulai dirasakan penumpang sejak pukul 10.00 WIB. Penumpang yang semula diminta menunggu di Gate D3 mendadak diarahkan berpindah ke Gate D5. Kesimpangsiuran informasi tersebut menyebabkan penumpukan dan ketidaknyamanan di area ruang tunggu terminal keberangkatan.
Sesuai dengan jadwal resmi pada tiket, penerbangan ID 6280 seharusnya melakukan proses boarding pada pukul 11.20 WIB dengan jadwal keberangkatan pukul 11.50 WIB. Namun, jadwal boarding terus diundur hingga melampaui pukul 12.30 WIB tanpa kejelasan alasan operasional yang memuaskan dari pihak maskapai.
Kompensasi “Kue dan Air” Dikritik Penumpang
Guna meredam kekecewaan, pihak maskapai membagikan kompensasi atas keterlambatan berupa sekotak kue dan air mineral. Namun, langkah ini justru memicu gelombang protes dari para penumpang.
“Ini sudah memasuki jam makan siang. Kami membeli tiket Batik Air dengan harga lebih mahal dibanding Lion Air karena mengharapkan kualitas layanan full-service dan ketepatan waktu, bukan sekadar diberi air minum dan kue manis di saat jam makan siang,” pukas salah seorang penumpang di ruang tunggu.
Kondisi keterlambatan ini ternyata tidak hanya dialami oleh penerbangan rute Manado. Hal serupa juga terjadi pada beberapa penerbangan Batik Air lainnya pada hari yang sama untuk tujuan Kalimantan, Jawa, serta sejumlah wilayah di Indonesia kawasan timur.
Komitmen Layanan Didebatkan, Pebisnis dan Turis Merugi
Sejumlah penumpang mempertanyakan komitmen dan efisiensi konsep point-to-point yang diusung maskapai. Seharusnya, dengan skema rute langsung tersebut, potensi gangguan berantai akibat keterlambatan dari jalur atau arah penerbangan kota lain dapat diminimalisasi.
Dampak dari penundaan ini dirasakan langsung oleh berbagai pihak.
Beberapa pebisnis yang telah menjadwalkan agenda pertemuan penting (meeting) di Manado dan daerah lain terpaksa mengatur ulang jadwal atau kehilangan kesempatan bisnis berharga. Tak hanya itu, beberapa wisatawan mancanegara yang hendak berkunjung ke Sulawesi Utara juga mengeluhkan pelayanan maskapai yang dinilai kurang profesional dan tidak menyenangkan.
Hingga berita ini diturunkan, para penumpang masih menanti kejelasan keberangkatan serta berharap pihak manajemen Batik Air dapat memberikan penjelasan resmi dan perbaikan standar pelayanan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang.
(HanTam)












