SUARAMANADO – Krisis iklim bukan lagi sekadar wacana di atas kertas bagi generasi muda Sulawesi Utara. Melalui aksi nyata yang kolaboratif, Samsul Muarif Manumpil, alumni Green Leadership Indonesia (GLI), menginisiasi gerakan penghijauan besar-besaran dengan membagikan dan menanam 3.000 bibit pohon di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan.
Langkah strategis ini lahir dari momentum KKT Khusus 146 Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), yang menggandeng BEM UNSRAT, Posko KKT, serta mendapat dukungan penuh dari BPDAS Tondano.
Program ini menyasar 25 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni, Kecamatan Motoling (7 Desa), Kecamatan Motoling Timur (2 Desa), Kecamatan Motoling Barat (3 Desa), Kecamatan Tompaso Baru (11 Desa), Kecamatan Sinonsayang (2 Desa).
“Kami ingin gerakan ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang. Keterlibatan pemerintah desa, masyarakat, dan mahasiswa KKT memastikan bahwa pohon-pohon ini tidak hanya ditanam lalu ditinggalkan, tapi dirawat sebagai warisan ekosistem,” ujar Samsul Manumpil.
Pemilihan jenis bibit tidak dilakukan sembarangan. Setiap pohon yang ditanam (Matoa, Kemiri, Alpukat, Durian, dan Aren) memiliki peran spesifik untuk memulihkan lingkungan sekaligus membantu ekonomi warga:
Matoa & Durian: Menjadi “mesin” penyerap karbon dioksida ($CO_2$) skala besar dan penyedia oksigen murni.
Kemiri & Aren: Benteng alami melawan erosi dan tanah longsor, terutama di wilayah perbukitan Minsel yang rawan. Aren secara khusus dikenal sebagai penjaga sumber air yang andal.
Alpukat: Memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga saat panen tiba, sehingga muncul motivasi mandiri untuk menjaga kelestarian pohon.
Aksi ini membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi, organisasi lingkungan, dan pemerintah mampu menciptakan dampak yang terukur.
Harapannya, 3.000 pohon ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat Minahasa Selatan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.












