SUARAMANADO, Jakarta: Sebagai negara yang dianugerahi dengan potensi kekayaan alam yang melimpah, Indonesia terus berupaya mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya alam untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam hal meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengentaskan kemiskinan. Dengan kawasan hutan tropis yang luas, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan telah menjadi penyumbang yang unggul bagi perekonomian nasional dengan kontribusi hingga 13% terhadap PDB selama lima tahun terakhir.
Pada Q4-2024, perekonomian nasional tumbuh sebesar 5,02% (yoy) yang menunjukkan ketahanan dan daya saing relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya. Ke depan, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai angka 8% (yoy). Salah satu upaya yang akan dilakukan Pemerintah untuk mencapai target tersebut yakni kebijakan ketahanan pangan dan energi dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, salah satunya melalui pendekatan lanskap yang berkelanjutan.
“Presiden menargetkan untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, itu menjadi tantangan tapi kita optimis dan salah satunya penyumbang yang dapat menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia yakni yang berbasis lanskap, di situ ada pertanian, perhutanan, dan berbagai sektor lainnya,” ungkap Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kemenko Perekonomian Dida Gardera dalam acara Diseminasi Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan untuk Masa Depan Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia, Kamis (27/02).
Dalam rangka mendukung pengelolaan lanskap yang sinergis dan bekerlanjutan tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Program Sustainable Landscapе Management Multi-Donor Trust Fund (SLM MDTF) telah menyusun laporan berjudul Menjembatani Kesenjangan untuk Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan. Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan atau Sustainable Landscape Management (SLM) merupakan pendekatan untuk pengelolaan lanskap yang mengutamakan keseimbangan kepentingan yang bersaing dalam suatu lanskap.
Disusun melalui proses konsultasi dengan berbagai Kementerian/Lembaga yang terlibat dalam pengelolaan lanskap, yang diselenggarakan sejak bulan Februari – September 2024, laporan tersebut bertujuan untuk dapat menyajikan serangkaian rekomendasi jangka pendek yang spesifik dan mendukung pencapaian target restorasi lahan, ketahanan pangan, dan ketahanan energi. Laporan tersebut juga ditujukan untuk menginformasikan pembuat kebijakan baik Pemerintah Pusat dan Daerah, mengenai tindakan potensial yang dapat diintegrasikan ke dalam rencana kerja Kementerian/Lembaga.
Sejumlah rekomendasi yang disajikan dalam laporan tersebut yakni meningkatkan tata kelola lanskap berkelanjutan (SLM), meningkatkan konsistensi data spasial dan non-spasial, meningkatkan koordinasi lintas sektoral untuk ketahanan pangan, menjaga keberlanjutan sumber daya alam untuk sistem pangan dan energi regeneratif, serta meningkatkan kapasitas kelembagaan dan manusia lokal untuk pengelolaan lanskap yang gesit dan adaptif.
“Ke depannya, tentu kerja sama dari kita semua supaya dapat lebih konkret. Laporan ini juga sebagai bahan referensi kita bersama untuk tadi benar-benar menunjukkan keunggulan riset yang berkelanjutan demi tercapainya ketahanan pangan dan energi yang adil dan berkelanjutan,” pungkas Sahli Dida.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yakni Regional Manager for Southeast Asia Environment Unit I World Bank Christophe Crepin, Asisten Deputi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Kemenko Bidang Pangan Radian Bagiyono, Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas Jarod Indarto, Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Mulyono, serta Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Perhutanan Catur Endah Prasetyani.
Sumber: ekon.go.id