Salak Tagulandang mulai menghilang?

SUARAMANADO, Manado : Tahun 1990an, salak Tagulandang begitu dikenal, tidak saja di daerah Sulawesi Utara, tetapi sampai ke propinsi dan pulau yang lain seperti Sulawesi Tengah dan Kepulauan Ternate. Bagi penikmat salak, rasa dan bentuk salak Tagulandang memiliki ciri kas tersendiri; bentuknya lebih besar dan rasanya yang kuat (berasa yang manis, sedikit asam dan pakat-seperti berasa pahit getah- dengan daging yang kenyal. Kelancaran lalu-lintas perdagangan Manado ke kepulauan Sangihe, Talaud, Sitaro, dan ke propinsi tetangga Sulawesi Tengah membuat salak dari pulau ini berhasil mengharumkan dan mengabadikan namanya dalam hasil produksinya itu, Tagulandang.

Waktu berlalu, lalu-lintas laut berubah dan hasil bumi juga berpindah. Masyarakat Tagulandang yang hidup di perantauan mulai menanam dan menghasilkan salak kemudian menjualnya ke lokasi-lokasi yang dulunya pengimport buah ini. Alhasil, permintaan salak Tagulandang mulai menurut. Perubahan rute kapal kecil yang menutup pelayaran dari Manado, ibukota propinsi Sulawesi Utara ke sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah juga seakan menutup pintu masuk Salak Tagulandang ke daerah-daerah lain.

“Banyak pohon salak ditebang dan diganti dengan pohon lain, seperti pala dan kenari. Ini dilakukan karena permintaan salak mulai menurun, sementara pala dan kenari tetap dicari,” ungkap Stevi Mulalinda Loho, tokoh masyarakat Bawoleo yang merupakan pusat lokasi perkebunan salak di Tagulandang. Stevi menjelaskan, ekonomi masyarakat Tagulandang sebelumnya sangat bergantung pada ekspor salak dan kini harus mengganti sumber penghasilan lain sebagai penopang ekonomi.

Penyebab lain susahnya salak Tagulandang ditemukan di pasaran akhir-akhir ini karena faktor cuaca yang tidak menentu. Curah hujan yang terus menerus beberapa waktu yang lalu mengganggu pertumbuhan buah salak sehingga banyak pohon tidak mengeluarkan buah, jelas Stevi.

Bila di masa kejayaannya para petani salak Tagulandang sudah harus berjuang untuk menutupi pemeliharaan kebun dan penjualan salaknya serta kerugian bila buah rusak kerena tidak terjual pada waktunya, hal yang sama harus dilakukan saat ini ditambah lagi dengan usaha untuk mempertahakan eksistensi salak Tagulandang. Untuk memperoleh pemasukan tambahan, kebun salak misalnya, dapat dijadikan objek wisata buah; para turis yang datang ke Tagulandang dapat dituntun untuk mengunjungi kebun salak serta menikmati buah dengan petik langsung; tidak perlu terlalu cantik, yang penting pemeliharaan pohon dan kebersihan kawasan terjaga dengan baik. Usaha yang lain yang dapat dibuat adalah dengan memproduksi manisan salak atau keripik salak sehingga tidak ada buah salak yang terbuang karena lewat waktu atau rusak. Salak Tagulandangpun bisa tetap eksis dan dinikmati masyarakat. (Ellen Manueke)

Leave a Reply

Your email address will not be published.