Menteri Sandiaga Uno Beberkan Strategi Bangkitkan Pariwisata di Sidang Umum PBB

SUARAMANADO, New York : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan sejumlah strategi untuk membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif saat memberikan sambutan di event “High-level Thematic Debate on Tourism” yang diadakan United Nations General Assembly Hall di New York, Amerika Serikat, Rabu (4/5).

“Saya berterima kasih kepada Presiden Majelis Umum, Yang Mulia Abdullah Shahid, karena menyoroti pariwisata, dalam diskusi pemulihan pasca-pandemi Covid-19 yang berdampak buruk pada industri pariwisata,” ujar Sandiaga Uno dalam rilisnya pada Merdeka.com, Kamis (5/5).

Menurutnya, ada sekitar 1 miliar lebih kedatangan turis internasional atau 73 persen atau turun dari level prapandemi 2019. Sebagai industri multisektor, dampak meluasnya pandemi pada pariwisata ke banyak ekonomi adalah bencana besar.

Kami melihat ini di banyak negara berkembang dan pulau kecil. Dengan adanya UMKM, ekonomi kreatif, dan sektor informal yang mendukung industri pariwisata, dampak pembatasan perjalanan pandemi berdampak langsung bagi pendapatan dan penghidupan masyarakat lokal dalam pembangunan negara.

Kami melihat kehancuran ini di Indonesia, yang mana lebih 34 juta orang dengan mata pencarian bergantung pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pandemi telah membuat kebutuhan mendesak untuk mengubah industri pariwisata.

Setiap negara, lanjut menteri, perlu mengurangi kerentanan industri terhadap guncangan dan mempersiapkannya untuk pandemi di masa depan. Dengan pariwisata global yang mulai tumbuh pasca-pandemi, sekarang saatnya untuk memulai transformasi ini.

Di Indonesia ada tren positif dalam perjalanan dan pariwisata global dengan pertumbuhan 130 persenn pada Januari tahun ini dibandingkan tahun lalu.

“Namun, kami tidak boleh berpuas diri. Sangat penting bagi kita untuk tidak kembali ke pendekatan bisnis seperti biasa, atau ke rasa aman yang salah. Kita harus membangun kembali industri pariwisata dengan lebih baik, berkelanjutan, dan tangguh,” ujarnya.

Pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan harus melihat di luar isu lingkungan atau kesejahteraan lingkungan serta harus mengangkat martabat budaya lokal, masyarakat, dan pengetahuan tradisional, serta menciptakan keseimbangan antara pariwisata massal dan pariwisata berkualitas.

Peran Milenial dan Gen Z

Dalam pengalamannya, Sandiaga Uno mengungkapkan hal tersebut akan membutuhkan elemen-elemen yang saling berhubungan berikut ini.

Pertama, pendekatan multi-stakeholder menuju pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan. Dalam mengembangkan sektor pariwisata berkelanjutan, kita tidak bisa melakukannya sendiri. Sektor publik dan swasta perlu terlibat serta berkolaborasi bersama masyarakat lokal.

Baik sektor swasta maupun publik perlu fokus untuk memiliki tujuan terukur dan metrik yang sebanding. Komponen-komponen ini sangat penting untuk perbaikan jangka panjang dan akuntabilitas pariwisata berkelanjutan.

Untuk lebih menyelaraskan upaya menuju praktik pariwisata berkelanjutan terbaik, juga penting bagi pemangku kepentingan publik dan swasta umemiliki narasi terpadu tentang apa yang dimaksud dengan pariwisata berkelanjutan.

Saat ini, kita juga perlu melihat peran milenial dan gen Z dalam keberlanjutan, tidak hanya sebagai turis, tapi juga sebagai investor. Oleh karena itu, keterlibatan dengan demografis pada pariwisata berkelanjutan harus menjadi prioritas.

Ada peluang untuk mengalihkan fokus pembahasan dari mitigasi “dampak negatif” ke arah menciptakan “dampak positif” dari pariwisata, yaitu penataan perjalanan yang mendanai perlindungan alam, brain-gain, pemberdayaan masyarakat marjinal dan adat.

Kedua, perlu penguatan peran masyarakat sebagai agen perubahan transformasi pariwisata untuk membangun sektor pariwisata angguh dan berkelanjutan. Fokus kami untuk memajukan pemulihan pariwisata melalui penguatan peran masyarakat sebagai agen perubahan transformasi pariwisata.

Dengan program “Desa Wisata”, kami mengintegrasikan akomodasi lokal, daya tarik, dan saling melengkapi di bawah pemerintahan desa dengan kearifan lokal. Program ini terbukti mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat desa, seperti terlihat di Desa Wisata Penglipuran, Bali, yang menghasilkan pendapatan lebih US$ 1,45 juta pada 2020.

“Tahun lalu, kami sangat bangga ketika Nglanggeran, komunitas kecil di Yogyakarta, mendapat penghargaan dari UN WTO sebagai desa wisata terbaik di dunia. Di bawah Kepresidenan G20 Indonesia dan bekerja sama dengan WTO PBB, kami merancang pedoman yang komprehensif, menunjukkan komunitas sebagai ‘Rockstar’ dari proses pemulihan,” ujarnya.

Sumber : merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.