Kisah Ali Iksan, Jemaah Difabel yang Selalu Semangat Beribadah

SUARAMANADO, Makkah : Namanya, Ali Ihsan. Tahun ini dia tercatat sebagai salah satu jemaah haji Indonesia 1443 H.

Ali Ihsan berasal dari Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo Jepara Jawa Tengah. Dia bersyukur tahun ini bisa berangkat ibadah haji bersama istri dan anaknya. Meski harus menggunakan kursi roda karena struk yang menimpanya setahun setelah mendaftar haji, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk beribadah.

Selama menunggu jadwal keberangkatan, Ihsan terus berdoa agar bisa berangkat ibadah haji bersama keluarga dan anak semata wayangnya. “Saya mendaftar haji pada tahun 2011, setengah tahun berikutnya kena serangan struk sampai sekarang,” kata Ali Ihsan, di Makkah, Minggu (26/6/2022).

Menurut Rizka, anak Ihsan, menceritatakan bahwa selama di Madinah, ayahnya bisa malaksanakan ibadah sunnah Arbain. Bahkan Ihsan bisa mengikuti salat sebanyak 40 waktu salat secara berjamaah.  “Alhamdulillah bapak bisa menjalankan ibadah sunnah Arbain,” kata Rizka.

Rizka mengaku beruntung karena bapaknya sangat mudah untuk mengikuti panduan, di tengah kondisinya tidak bisa berdiri, sebagaimana jemaah normal. Namun hal ini tidak menyulitkannya dalam membantu ibadah bapaknya. “Saya sangat beruntung bisa berbakti dan menemani ayahnya beribadah di Makkah,” tutur Rizka.

Ali Musyafak, salah satu jemaah haji yang satu kloter dengan Ali Ihsan merasa heran. Menurutnya, orang yang memiliki penyakit struk emosinya biasanaya tidak stabil, mudah tersinggung. “Tetapi tidak demikian untuk Ali Iksan, ia selalu tersenyum dalam menghadapi setiap situasi, bahkan ia bisa memberi inspirasi pada jamaah lainnya,” kata Musyafak

Untuk itu, lanjutnya, kesabaran Ali Ihsan layak untuk diteladani oleh semua jemaah, khususnya kloter 3 Embarkasi Solo (SOC 3). Sebab, sifat sabarnya dalam menghadapi proses ibadah haji yang butuh tenaga ekstra ini. “Setahu kami, pak Ihsan sudah mengikuti beberapa rangkaian ibadah haji, termasuk umrah wajib dan umrah sunnah,” tukasnya

“Semoga Pak Ihsan dapat mengikuti rangkaian ibadah berikutnya, terutama wukuf di Arafah, bermalam di Musdalifah, dan melontar jumrah. Semoga semangat ibadahnya yang tinggi bisa menjadi inspirasi kita semua,” pungkas Musyafak.

Sumber : kemenag.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.