Kampung Cina Bergejolak: Iuran Lapak Melejit, Pedagang Kecil Terjepit, Ini Harapan Ananta

SUARAMANADO – Kebijakan pengelola kawasan kuliner Koenya-Koenya di Kampung Cina Calaca, Manado, tengah memicu gelombang protes dari para pelaku UMKM.

Pasalnya, biaya iuran bulanan yang semula Rp500 ribu tiba-tiba melambung tinggi menjadi Rp1,3 juta per bulan.

​Kenaikan yang mencapai lebih dari 100% ini dinilai dilakukan secara sepihak dan terkesan terburu-buru tanpa pemberitahuan adanya yang layak bagi para pedagang.

Kebijakan “Tiba-Masa Tiba-Akal”

​Rahmat Manoppo, atau yang akrab disapa Ananta, salah satu pelaku UMKM setempat, mengaku kaget dengan keputusan mendadak tersebut.

Ia menyyangkan sikap pengelola yang tidak memberikan tenggang waktu sosialisasi.

​”Harusnya pengelola kasih info satu bulan sebelum ada kenaikan. Tapi ini tiba-tiba, besok mau naik. Wajar kalau kami kaget,” ungkap Ananta kepada media.

Selain soal nominal, transparansi fasilitas juga dibahas. Ananta menyoroti klaim fasilitas seperti akses toilet dan penitipan barang yang dianggap tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Menurutnya, akses toilet masih harus menguasai pemilik rumah secara pribadi dan seringkali terkunci, sehingga tidak bisa disebut fasilitas umum bagi pedagang maupun pengunjung.

​Dikeluarkan karena Tak Setuju

​Kecewaan kian memuncak setelah sejumlah pelaku UMKM yang menyetujui iuran tersebut dikabarkan dikeluarkan dari area berjualan.

Baca Juga: Polemik Iuran UMKM Kampung Cina: Pelaku Usaha Protes, Pengelola Sebut Sudah Sesuai Kesepakatan

Ananta menilai, sebagai usaha yang bersifat mandiri, pengelola tidak seharusnya mematok tarif tetap yang memberatkan UMKM kecil.

Kini, para pedagang yang terusir berharap Pemerintah Kota Manado hadir memberikan solusi. Mereka meminta izin untuk tetap bisa berjualan secara mandiri di trotoar kawasan Kota Tua pada malam hari, mengingat aktivitas pejalan kaki yang sepi dan tidak mengganggu arus lalu lintas.

​Harapan pada Pemerintah Kota

​Mewakili suara rekan-rekan UMKM yang masih takut untuk bersuara (speak up), Ananta meminta keadilan kepada Wali Kota Manado dan dinas terkait.

​”Harapan saya dan teman-teman, kiranya diberikan izin yang sama untuk berjualan di kawasan Kota Tua Kampung Cina. Kami hanya menggunakan trotoar di malam hari yang sepi, tanpa menutup akses jalan raya,” tutupnya.

​Sebagai catatan, berdasarkan Perwako Tahun 2017, area resmi kuliner Koenya-Koenya Manado seharusnya hanya terbatas di sepanjang Jalan S. Parman jalur sebelah kanan. Para pedagang berharap regulasi ini ditegakkan dengan adil tanpa mematikan mata pencaharian pelaku usaha kecil lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *